Postingan

ARTIKEL : Tan Malaka: Revolusioner Internasionalis dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Abstrak Artikel ini mengkaji peran Tan Malaka sebagai revolusioner internasionalis yang memberikan kontribusi signifikan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber jurnal ilmiah, buku, dan dokumen historis untuk memahami pemikiran dan aktivitas politik Tan Malaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa Tan Malaka adalah tokoh unik yang menggabungkan perspektif lokal dan global dalam perjuangannya. Pendidikan di Belanda dan pengalamannya sebagai wakil Komintern untuk Asia Tenggara membentuk visi internasionalisnya. Pemikiran orisinalnya meliputi sintesis antara Marxisme dan Pan-Islamisme, konsep republik Indonesia yang tertuang dalam "Naar de Republiek Indonesia" (1925), filosofi dialektika dalam "Madilog" (1943), dan konsep federasi Asia Tenggara yang disebut "Aslia". Tan Malaka juga menekankan dimensi pedagogis dalam revolusi, memandang pendidikan sebagai kunci pembebasan nasiona...

ARTIKEL : PAYAKUMBUH SEBAGAI KOTA RENDANG: REFLEKSI HISTORIS ATAS KULINER, EKONOMI, DAN IDENTITAS BUDAYA MINANGKABAU

Gambar
ABSTRAK Payakumbuh merupakan salah satu kota penting di Sumatera Barat yang dikenal sebagai pusat produksi rendang terbesar di Minangkabau. Sebagai ikon kuliner yang telah mendapat pengakuan internasional, rendang tidak hanya berfungsi sebagai makanan tradisional, tetapi juga menjadi medium identitas budaya, aktivitas ekonomi, dan simbol kearifan lokal masyarakat Minangkabau. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara historis perkembangan Payakumbuh sebagai Kota Rendang dengan menyoroti relasi antara tradisi kuliner, pertumbuhan ekonomi, dan pembentukan identitas budaya masyarakat. Metode yang digunakan adalah pendekatan historis-deskriptif dengan menelaah proses transformasi rendang dari masakan tradisional menjadi komoditas ekonomi dan warisan budaya, serta dinamika perkembangan industri rendang di Payakumbuh. Hasil kajian menunjukkan bahwa status Payakumbuh sebagai Kota Rendang tidak hanya ditentukan oleh produksi massal, tetapi juga oleh upaya pelestarian resep tradisional, ino...

Sumatera “Tenggelam”, Mengapa Respon Negara Dinilai Timpang?

Gambar
SUMATERA — Pulau Sumatera kembali diguncang bencana besar ketika banjir melanda tiga provinsi sekaligus: Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Hujan ekstrem yang turun tanpa henti selama beberapa hari membuat sejumlah sungai besar meluap, merendam desa-desa dan kota-kota dengan ketinggian air mencapai lebih dari tiga meter. Bencana ini langsung memutus akses jalan nasional, merusak jembatan, dan menyebabkan ribuan rumah tidak lagi layak huni. Warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, sementara sebagian lainnya terisolasi karena akses ke wilayah mereka tertutup total. Situasi genting ini kembali menyoroti lemahnya kesiapan sistem mitigasi bencana di Sumatera, terutama dalam hal kecepatan respons pemerintah. Di Aceh , banjir terparah terjadi di wilayah Aceh Utara, Aceh Tamiang, Lhokseumawe, dan Bireuen. Hujan deras di kawasan pegunungan membuat sungai-sungai besar seperti Krueng Keureuto dan Krueng Pase meluap dengan cepat. Ribuan warga mengaku tidak si...

Batik Indonesia: Warisan Budaya Dunia yang Membanggakan

Gambar
Setiap tanggal 2 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Peringatan ini bermula dari pengakuan UNESCO pada 2009 yang menetapkan batik Indonesia sebagai warisan budaya tak benda. Pengakuan internasional ini menjadi bukti bahwa batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan identitas bangsa yang telah diwariskan turun-temurun. Jejak Sejarah dari Masa Kerajaan Batik telah menjadi bagian dari peradaban Nusantara sejak berabad-abad silam. Kata "batik" sendiri berasal dari bahasa Jawa, gabungan "amba" (menulis) dan "titik" (titik). Teknik membatik menggunakan canting dan malam sudah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan kuno di Jawa. Relief Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 memperlihatkan bukti awal keberadaan batik. Di sana, terdapat gambar orang mengenakan kain bermotif yang menyerupai batik. Pada masa Kerajaan Majapahit di abad ke-13 hingga ke-15, batik berkembang pesat di kalangan istana. Para putri raja dan keluarga bangsawan me...