Postingan

Menampilkan postingan dengan label oleh Dwi Aqila Zahra

ARTIKEL : PAYAKUMBUH SEBAGAI KOTA RENDANG: REFLEKSI HISTORIS ATAS KULINER, EKONOMI, DAN IDENTITAS BUDAYA MINANGKABAU

Gambar
ABSTRAK Payakumbuh merupakan salah satu kota penting di Sumatera Barat yang dikenal sebagai pusat produksi rendang terbesar di Minangkabau. Sebagai ikon kuliner yang telah mendapat pengakuan internasional, rendang tidak hanya berfungsi sebagai makanan tradisional, tetapi juga menjadi medium identitas budaya, aktivitas ekonomi, dan simbol kearifan lokal masyarakat Minangkabau. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara historis perkembangan Payakumbuh sebagai Kota Rendang dengan menyoroti relasi antara tradisi kuliner, pertumbuhan ekonomi, dan pembentukan identitas budaya masyarakat. Metode yang digunakan adalah pendekatan historis-deskriptif dengan menelaah proses transformasi rendang dari masakan tradisional menjadi komoditas ekonomi dan warisan budaya, serta dinamika perkembangan industri rendang di Payakumbuh. Hasil kajian menunjukkan bahwa status Payakumbuh sebagai Kota Rendang tidak hanya ditentukan oleh produksi massal, tetapi juga oleh upaya pelestarian resep tradisional, ino...

Sumatera “Tenggelam”, Mengapa Respon Negara Dinilai Timpang?

Gambar
SUMATERA — Pulau Sumatera kembali diguncang bencana besar ketika banjir melanda tiga provinsi sekaligus: Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Hujan ekstrem yang turun tanpa henti selama beberapa hari membuat sejumlah sungai besar meluap, merendam desa-desa dan kota-kota dengan ketinggian air mencapai lebih dari tiga meter. Bencana ini langsung memutus akses jalan nasional, merusak jembatan, dan menyebabkan ribuan rumah tidak lagi layak huni. Warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, sementara sebagian lainnya terisolasi karena akses ke wilayah mereka tertutup total. Situasi genting ini kembali menyoroti lemahnya kesiapan sistem mitigasi bencana di Sumatera, terutama dalam hal kecepatan respons pemerintah. Di Aceh , banjir terparah terjadi di wilayah Aceh Utara, Aceh Tamiang, Lhokseumawe, dan Bireuen. Hujan deras di kawasan pegunungan membuat sungai-sungai besar seperti Krueng Keureuto dan Krueng Pase meluap dengan cepat. Ribuan warga mengaku tidak si...

Padang Kocar-Kacir Usai Banjir Besar, Aktivitas Kota Lumpuh dan Ribuan Warga Mengungsi

Gambar
Padang, Sumatera Barat — Kota Padang masih berupaya bangkit setelah banjir besar yang melanda beberapa hari lalu, menyebabkan kerusakan parah pada permukiman, fasilitas umum, dan aktivitas perekonomian masyarakat. Hujan lebat yang turun selama lebih dari delapan jam membuat sungai-sungai di kota ini meluap dan merendam berbagai kawasan padat penduduk. Akibatnya, lebih dari 2.800 rumah terendam dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 200 sentimeter. Ribuan warga terpaksa mengungsi ke lokasi aman seperti sekolah, masjid, dan gedung serbaguna karena rumah mereka tidak bisa ditempati. Tidak hanya merendam rumah warga, banjir juga merusak berbagai infrastruktur penting kota. Sejumlah jalan utama seperti Khatib Sulaiman, Siteba, Ulak Karang, hingga Andalas tidak dapat dilewati karena genangan air tinggi dan banyak kendaraan yang mogok. Beberapa jembatan kecil dilaporkan mengalami kerusakan akibat derasnya arus air. Fasilitas umum seperti puskesmas, kantor lurah, posyandu, dan sejumlah tem...

Banjir-Longsor Sumbar 2025: Korban Melonjak, Status Darurat Diperpanjang

Gambar
  Padang,  Musibah banjir bandang dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Sumatera Barat sejak akhir November 2025 berujung pada meningkatnya jumlah korban jiwa, ratusan warga yang hingga kini masih dinyatakan hilang, serta kerusakan infrastruktur yang melumpuhkan aktivitas masyarakat. Hujan dengan intensitas tinggi yang turun secara terus-menerus selama beberapa hari menjadi pemicu utama terjadinya bencana, terutama di daerah yang berada di sepanjang aliran sungai dan perbukitan yang rentan longsor. Seiring meluasnya dampak bencana, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, guna mempercepat koordinasi dan penanganan di lapangan. Keputusan tersebut diambil setelah BPBD menerima laporan bahwa sedikitnya 13 kabupaten/kota terdampak, mencakup wilayah dengan tingkat kerusakan yang bervariasi mulai dari pemukiman, fasilitas umum, hingga jalur transportasi utama. Kondisi ini membuat se...

Fenomena Mahasiswa FOMO Menggunakan Strava, Antara Gaya Hidup Sehat dan Pencitraan Digital

Gambar
Dalam beberapa bulan terakhir, muncul fenomena unik di kalangan mahasiswa, yaitu maraknya penggunaan aplikasi Strava. Aplikasi yang awalnya dirancang untuk pelari dan pesepeda profesional ini kini telah menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa di berbagaikampus. Strava tidak hanya digunakan untuk mencatat jarak tempuh atau kecepatan olahraga, tetapi juga menjadi media sosial baru tempat berbagi aktivitas fisik. Banyak mahasiswa mengunggah hasil jogging pagi, bersepeda sore, atau bahkan sekadar berjalan ke warung dekat kos. Fenomena ini mencerminkan bagaimana budaya FOMO (Fear of Missing Out) semakin mengakar dalam kehidupan mahasiswa masa kini. Mereka takut tertinggal dari tren sehingga ikut serta agar dianggap aktif dan produktif. Di sisi positif, tren ini membawa banyak manfaat bagi kalangan mahasiswa. Strava berhasil memotivasi mahasiswa untuk hidup lebih sehat dan aktif secara fisik. Fitur seperti kudos, leaderboard, dan segment challenge menumbuhkan semangat kompetisi yang menyena...