Padang Kocar-Kacir Usai Banjir Besar, Aktivitas Kota Lumpuh dan Ribuan Warga Mengungsi

Padang, Sumatera Barat — Kota Padang masih berupaya bangkit setelah banjir besar yang melanda beberapa hari lalu, menyebabkan kerusakan parah pada permukiman, fasilitas umum, dan aktivitas perekonomian masyarakat. Hujan lebat yang turun selama lebih dari delapan jam membuat sungai-sungai di kota ini meluap dan merendam berbagai kawasan padat penduduk. Akibatnya, lebih dari 2.800 rumah terendam dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 200 sentimeter. Ribuan warga terpaksa mengungsi ke lokasi aman seperti sekolah, masjid, dan gedung serbaguna karena rumah mereka tidak bisa ditempati.

Tidak hanya merendam rumah warga, banjir juga merusak berbagai infrastruktur penting kota. Sejumlah jalan utama seperti Khatib Sulaiman, Siteba, Ulak Karang, hingga Andalas tidak dapat dilewati karena genangan air tinggi dan banyak kendaraan yang mogok. Beberapa jembatan kecil dilaporkan mengalami kerusakan akibat derasnya arus air. Fasilitas umum seperti puskesmas, kantor lurah, posyandu, dan sejumlah tempat ibadah ikut terendam hingga mengganggu pelayanan kepada masyarakat.

Sektor ekonomi menjadi salah satu yang paling terpukul. Pasar Raya Padang lumpuh total karena ratusan lapak pedagang terendam. Barang dagangan berupa sembako, pakaian, sayuran, dan peralatan rumah tangga rusak sehingga menyebabkan kerugian besar bagi pedagang. Industri kecil seperti usaha kuliner, percetakan, dan laundry terhenti karena kerusakan peralatan serta padamnya aliran listrik di beberapa wilayah. Kerugian ekonomi ditaksir mencapai miliaran rupiah dan kemungkinan terus bertambah seiring pendataan lanjutan.

Aktivitas pendidikan pun terdampak cukup signifikan. Belasan sekolah dari jenjang SD hingga SMA terendam banjir dan mengalami kerusakan pada fasilitas belajar seperti meja, kursi, komputer, hingga dokumen penting. Proses belajar tatap muka dihentikan sementara dan sebagian sekolah mengalihkan kegiatan menjadi sistem daring sambil menunggu perbaikan dilakukan.

Situasi kesehatan warga juga menjadi perhatian serius. Genangan air yang belum surut memicu risiko penyakit seperti diare, infeksi kulit, leptospirosis, dan ISPA. Dinas Kesehatan Kota Padang telah mendirikan posko kesehatan darurat di beberapa titik pengungsian untuk memberikan pelayanan medis cepat kepada warga terdampak. Selain itu, kebutuhan air bersih menjadi masalah karena banyak sumur warga tercemar air banjir yang bercampur lumpur.

Dalam upaya penanganan, BPBD Padang bersama TNI, Polri, Basarnas, dan relawan dari berbagai organisasi terus melakukan evakuasi warga, pembersihan lumpur, hingga distribusi logistik berupa makanan, obat-obatan, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya. Pemerintah Kota Padang membuka dapur umum dan memastikan pasokan bagi para pengungsi tetap aman. Pemerintah juga berjanji mempercepat proses pemulihan serta memperbaiki drainase, memperlebar aliran sungai, dan meningkatkan area resapan air untuk mengurangi risiko banjir di masa depan.

Banjir yang melanda kali ini disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam sepuluh tahun terakhir, menjadi peringatan bahwa kesiapsiagaan dan sistem pengendalian banjir perlu ditingkatkan. Hingga kini, warga masih berharap agar perbaikan dapat berjalan cepat sehingga kehidupan di Kota Padang bisa kembali normal secepatnya.

Komentar