Banjir-Longsor Sumbar 2025: Korban Melonjak, Status Darurat Diperpanjang

 

Padang, Musibah banjir bandang dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Sumatera Barat sejak akhir November 2025 berujung pada meningkatnya jumlah korban jiwa, ratusan warga yang hingga kini masih dinyatakan hilang, serta kerusakan infrastruktur yang melumpuhkan aktivitas masyarakat. Hujan dengan intensitas tinggi yang turun secara terus-menerus selama beberapa hari menjadi pemicu utama terjadinya bencana, terutama di daerah yang berada di sepanjang aliran sungai dan perbukitan yang rentan longsor. Seiring meluasnya dampak bencana, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, guna mempercepat koordinasi dan penanganan di lapangan. Keputusan tersebut diambil setelah BPBD menerima laporan bahwa sedikitnya 13 kabupaten/kota terdampak, mencakup wilayah dengan tingkat kerusakan yang bervariasi mulai dari pemukiman, fasilitas umum, hingga jalur transportasi utama. Kondisi ini membuat sejumlah kawasan terisolasi, sehingga tim penyelamat dan distribusi bantuan logistik harus bekerja ekstra untuk menjangkau lokasi yang sulit aksesnya. Pemerintah daerah juga memerintahkan seluruh unsur terkait, termasuk TNI, Polri, dan relawan, untuk memperkuat upaya evakuasi serta memastikan kebutuhan mendesak warga terdampak dapat terpenuhi meskipun akses belum sepenuhnya pulih.

Korban Jiwa dan Dampak Manusia

Data resmi hingga 1 Desember 2025 menunjukkan bahwa sedikitnya 129 warga dilaporkan meninggal dunia, sementara 118 orang masih dinyatakan hilang akibat bencana yang melanda. Jumlah korban luka terus bertambah seiring ditemukannya penyintas yang berhasil dievakuasi dari wilayah terdampak.

Tidak hanya menimbulkan korban jiwa, bencana ini juga memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka. Dalam laporan awal, pihak berwenang menyebutkan bahwa ratusan hingga ribuan keluarga di sejumlah kabupaten terdampak memilih mengungsi ke lokasi-lokasi yang dianggap lebih aman, seperti gedung sekolah, balai nagari, masjid, serta posko pengungsian darurat yang disiapkan pemerintah daerah dan relawan.

Sejumlah akses jalan dilaporkan terputus, jaringan listrik dan komunikasi lumpuh di beberapa titik, sehingga proses evakuasi berlangsung cukup sulit. Tim SAR gabungan bersama TNI, Polri, BPBD, dan relawan terus melakukan pencarian terhadap warga yang hilang, meski kondisi cuaca yang berubah-ubah kerap menjadi hambatan. Pemerintah daerah juga telah menyalurkan bantuan logistik berupa makanan, selimut, tenda darurat, dan layanan kesehatan bagi para pengungsi. Situasi ini masih berkembang, dan otoritas setempat mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan.

Kerusakan pada Rumah dan Fasilitas Publik

Dampak fisik dari bencana ini tergolong sangat parah, meninggalkan kerusakan luas pada berbagai sektor. Menurut laporan terbaru BPBD Sumatera Barat, kerusakan tidak hanya menimpa rumah-rumah warga, tetapi juga fasilitas umum dan infrastruktur penting yang menjadi penopang aktivitas masyarakat sehari-hari. Pada tahap awal pendataan, kerugian material tercatat mencapai Rp 6,53 miliar. Namun, pihak berwenang menegaskan bahwa angka ini kemungkinan besar akan terus bertambah seiring dengan proses verifikasi dan pendataan lanjutan di lapangan, mengingat banyak wilayah yang sebelumnya belum dapat dijangkau karena akses terputus.

Kerusakan juga terjadi pada infrastruktur vital, seperti jalan utama, jembatan, dan saluran air. Beberapa ruas jalan dilaporkan amblas, tertimbun longsor, atau terputus total, terutama di kawasan perbukitan yang rawan pergerakan tanah. Sejumlah jembatan penghubung antarkabupaten dan antar nagari pun mengalami kerusakan berat, sehingga tidak bisa lagi dilewati kendaraan. Kondisi ini menyebabkan proses evakuasi dan pencarian korban berjalan lambat, karena tim SAR kesulitan mencapai lokasi-lokasi isolasi yang terdampak paling parah. Selain itu, distribusi bantuan logistik seperti makanan, air bersih, obat-obatan, dan selimut terganggu akibat minimnya jalur akses. Mobilitas masyarakat pun terhambat, memperburuk situasi darurat, terutama bagi warga di daerah terpencil yang sangat bergantung pada bantuan eksternal. Pemerintah daerah bersama instansi terkait kini tengah berupaya melakukan pembersihan jalur, perbaikan darurat, serta pembukaan akses alternatif untuk mempercepat penanganan di lapangan.

Penyebab Bencana & Faktor Memperparah

Kejadian ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang melanda sebagian besar wilayah Sumbar sejak 22 November 2025, menurut pemantauan curah hujan dari sejumlah pos hujan di provinsi. 
Faktor alam diperparah oleh kondisi lingkungan yang rentan: banyak wilayah perbukitan yang lembap, serta sungai dan aliran air di daerah aliran sungai (DAS) yang mudah meluap saat hujan ekstrem, sehingga memicu banjir bandang dan longsor. 

Upaya Penanganan dan Pemulihan Darurat

Sejak tanggap darurat diumumkan, pemerintah daerah, BPBD, serta unsur TNI–Polri dan relawan telah dikerahkan untuk tanggap darurat  membuka akses jalan, membersihkan material longsor, mengevakuasi korban, dan mendistribusikan bantuan logistik mendesak. 
Pemerintah juga tengah melakukan asesmen detail terhadap rumah warga, fasilitas umum, dan infrastruktur publik sebagai dasar untuk rehabilitasi dan rekonstruksi jangka panjang. 

Meskipun hujan utama mulai mereda, potensi bencana susulan seperti longsor dan banjir masih disebut kemungkinan, terutama di daerah perbukitan dan lereng. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti instruksi evakuasi bila diperlukan. 

Tantangan Berat di Lapangan

Penanganan bencana ini menghadapi sejumlah kendala. Pertama, banyak wilayah yang kini terisolasi akibat putusnya akses jalan dan jembatan menyulitkan pengiriman bantuan dan evakuasi korban. 
Kedua, proses pendataan dan verifikasi kerusakan berjalan lambat karena medan berat, hujan susulan, dan alat berat yang belum dapat menjangkau seluruh titik terdampak. 
Ketiga, kebutuhan mendesak di lokasi pengungsian seperti air bersih, makanan, dan pelayanan kesehatan terus meningkat, sementara logistik belum bisa menjangkau semua lokasi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lebih dari Sekedar Tempat Makan

ARTIKEL : PAYAKUMBUH SEBAGAI KOTA RENDANG: REFLEKSI HISTORIS ATAS KULINER, EKONOMI, DAN IDENTITAS BUDAYA MINANGKABAU

Kantin UNP Kembali Padat