ARTIKEL : Tan Malaka: Revolusioner Internasionalis dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Abstrak
Artikel ini mengkaji peran Tan Malaka sebagai
revolusioner internasionalis yang memberikan kontribusi signifikan dalam
perjuangan kemerdekaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode studi
literatur dengan menganalisis berbagai sumber jurnal ilmiah, buku, dan dokumen
historis untuk memahami pemikiran dan aktivitas politik Tan Malaka. Hasil
kajian menunjukkan bahwa Tan Malaka adalah tokoh unik yang menggabungkan perspektif
lokal dan global dalam perjuangannya. Pendidikan di Belanda dan pengalamannya
sebagai wakil Komintern untuk Asia Tenggara membentuk visi internasionalisnya.
Pemikiran orisinalnya meliputi sintesis antara Marxisme dan Pan-Islamisme,
konsep republik Indonesia yang tertuang dalam "Naar de Republiek
Indonesia" (1925), filosofi dialektika dalam "Madilog" (1943),
dan konsep federasi Asia Tenggara yang disebut "Aslia". Tan Malaka
juga menekankan dimensi pedagogis dalam revolusi, memandang pendidikan sebagai
kunci pembebasan nasional dan pembentukan kesadaran kelas. Meskipun hidupnya
berakhir tragis pada 1949, warisan intelektualnya tetap relevan dalam diskusi
tentang kemandirian nasional, pendidikan kritis, dan perjuangan anti-kolonial.
Tan Malaka mengajarkan pentingnya memandang perjuangan nasional dalam konteks
global sambil mempertahankan identitas lokal, menjadikannya salah satu pemikir
revolusioner paling orisinal dari Asia pada abad ke-20.
Kata Kunci: Tan Malaka, revolusioner internasionalis,
Komintern, Madilog, pendidikan pembebasan, kemerdekaan Indonesia,
Pan-Islamisme, Aslia
Pendahuluan
Dalam historiografi perjuangan kemerdekaan Indonesia,
nama Tan Malaka sering kali muncul sebagai figur yang kontroversial namun
cemerlang. Berbeda dengan tokoh-tokoh nasionalis lain yang lebih dikenal luas,
Tan Malaka adalah salah satu figur penting dalam perjuangan rakyat Indonesia
merebut kemerdekaannya dari Kolonial Belanda. Pemikirannya yang revolusioner
dan perspektif internasionalisnya membuat ia menjadi salah satu intelektual
paling orisinal dari Asia pada masanya. Artikel ini akan mengkaji kiprah Tan
Malaka sebagai revolusioner internasionalis yang memberikan kontribusi
signifikan bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Latar Belakang dan Pendidikan
Ibrahim Datuk Tan Malaka lahir pada 2 Juni 1897 di
Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Ia berasal dari keluarga
aristokrat Minangkabau yang taat beragama Islam. Sejak kecil, Tan Malaka
mendapat pendidikan yang baik dan menunjukkan kecerdasan yang menonjol. Pendidikan
formalnya dimulai di Suliki, kemudian dilanjutkan ke Kweekschool Bukittinggi,
satu-satunya sekolah guru untuk pribumi di Sumatera pada masa itu. Ia lulus
dari Inlandsche Kweekschool voor Onderwijzers di Bukittinggi pada tahun 1913.
Berkat kecerdasannya yang luar biasa, Tan Malaka
mendapat kesempatan melanjutkan studi ke Belanda untuk belajar di
Rijkskweekschool Haarlem (1913-1919). Studi di Belanda ini yang kemudian
membuka wawasan dan pola pikirnya. Di Belanda, ia mulai berkenalan dengan
ide-ide politik seperti liberalisme, nasionalisme, sosialisme, dan komunisme.
Revolusi Rusia pada Oktober 1917 memberikan pengaruh besar pada pemikiran
politiknya. Pengalaman pendidikan di Eropa ini membentuk Tan Malaka menjadi
seorang intelektual dengan wawasan internasional yang luas.
Aktivitas Revolusioner dan Peran Internasional
Keterlibatan dalam Gerakan Komunis Internasional
Sekembalinya ke Hindia Belanda pada akhir 1919, Tan
Malaka mulai aktif dalam gerakan politik. Ia bergabung dengan Sarekat Islam
(SI) dan kemudian dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tan Malaka adalah
seorang komunis dan pernah menjadi tokoh Partai Komunis Indonesia alias PKI.
Pada tahun 1921, ia sempat menjabat sebagai ketua PKI, menunjukkan kepemimpinan
dan kapasitas intelektualnya yang diakui oleh rekan-rekannya.
Karier internasional Tan Malaka dimulai ketika ia
diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1922 karena aktivitas
politiknya yang dianggap berbahaya. Pengasingan ini justru membuka pintu bagi
perannya di kancah internasional. Ia pergi ke Berlin, kemudian ke Moskow, di
mana ia tiba pada Oktober 1922 untuk berpartisipasi dalam Komite Eksekutif
Komintern.
Peran di Komintern
Pada tahun 1923, Tan Malaka hadir dalam Kongres
Komunis Internasional (Comintern) di Moskwa dan aktif di Canton Conference,
Tiongkok. Ia menjadi wakil Komintern untuk Asia Tenggara, sebuah posisi penting
yang menunjukkan pengakuan internasional terhadap kapasitas intelektual dan
politiknya. Dalam kapasitas ini, ia bekerja sebagai penghubung antara gerakan
komunis di Indonesia dengan Komintern di Moskow.
Salah satu kontribusi penting Tan Malaka dalam forum
internasional adalah pemikirannya tentang hubungan antara komunisme dan
Pan-Islamisme. Pada Kongres Dunia Keempat Komintern di Moskow, Tan Malaka
mengusulkan bahwa komunisme dan Pan-Islamisme dapat berkolaborasi; namun,
usulannya ditolak oleh banyak pihak. Ini menunjukkan keberaniannya untuk
berpikir independen dan berusaha menyesuaikan teori Marxis dengan konteks Asia
dan Indonesia yang mayoritas Muslim.
Tan Malaka berpendapat bahwa Islam dan komunisme
sebenarnya kompatibel dan bahwa di Indonesia, revolusi harus dibangun di atas
keduanya. Tan Malaka percaya bahwa pertumbuhan partai komunis kompatibel
dengan, dan bahkan esensial bagi, kekuatan banyak gerakan nasionalis yang
muncul di koloni-koloni Asia. Dalam pandangannya, Islam dapat menjadi alat
pemersatu kelas pekerja di wilayah luas Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia
Selatan melawan imperialisme dan kapitalisme. Posisi ini menempatkannya dalam oposisi
dengan banyak komunis Eropa dan kepemimpinan Komintern yang memandang agama
sebagai penghambat revolusi proletar.
Perjalanan Internasional dan Aktivisme
Setelah aktivitasnya di Moskow, Tan Malaka melanjutkan
perjalanannya ke Canton (sekarang Guangzhou), tiba pada Desember 1923. Di sana,
ia menyunting jurnal berbahasa Inggris, The Dawn, untuk sebuah organisasi
pekerja transportasi Pasifik. Perjalanan internasionalnya membawanya ke
berbagai negara termasuk Tiongkok, Filipina, Singapura, Thailand, Jerman, dan
Rusia. Dalam perjalanan hidupnya yang cukup singkat, sekitar lima puluh tahun
(1897-1949), Tan Malaka pernah menjadi guru, ketua Partai Komunis Indonesia
(PKI), agen Komintern, pengasingan politik, dan pemimpin revolusioner.
Pengalaman internasionalnya yang luas ini membentuk
perspektif Tan Malaka sebagai seorang internasionalis sejati. Ia tidak hanya
memikirkan Indonesia dalam konteks lokal, tetapi juga dalam kerangka perjuangan
anti-kolonial global dan gerakan sosialis internasional.
Pemikiran dan Karya-Karya Penting
Naar de Republiek Indonesia (1925)
Salah satu karya paling penting Tan Malaka adalah
"Naar de Republiek Indonesia" (Menuju Republik Indonesia) yang
ditulis pada tahun 1925. Pada tahun 1924 Tan Malaka mengemukakan konsepsi
mengenai kemerdekaan Negara Indonesia dalam sebuah buku yang diberi judul Naar
De Republiek Indonesia (menuju republiek Indonesia). Buku ini berisi visi Tan
Malaka tentang Indonesia merdeka dalam bentuk republik, jauh sebelum para
founding father lainnya merumuskan konsep serupa.
Karya ini sangat berpengaruh di kalangan pemuda dan
pejuang kemerdekaan Indonesia. Pemikiran dan Gagasannya banyak dijadikan sumber
referensi oleh tokoh-tokoh nasional lainnya. Bahkan Presiden pertama Indonesia,
Soekarno, menggunakan beberapa konsep Tan Malaka, seperti konsep "massa
actie" yang dikutip dalam pledoi terkenalnya, "Indonesia
Menggugat".
Madilog (1943)
"Madilog" (Materialisme, Dialektika, Logika)
adalah karya monumental Tan Malaka yang ditulis pada tahun 1943. Buku ini
merupakan upayanya untuk memperkenalkan konsep materialisme dialektis kepada
pembaca Indonesia dengan bahasa yang jelas dan tegas. Aktivitas politik Tan
Malaka bersandar pada dialektika filosofis. Dasar filosofi dialektika adalah
konfrontasi. Namun, konfrontasi ini bukan berarti saling menghancurkan,
melainkan untuk membuat perubahan fundamental dalam struktur sosial.
Dalam "Madilog", Tan Malaka berusaha
mengubah pola pikir yang melemahkan dengan pemikiran dialektis yang lebih
dinamis. Ia menerbitkan buku ini sebagai pedoman dasar bagi gerakan perjuangan.
Meskipun berbasis konfrontasi, Tan Malaka juga menganggap solidaritas sebagai
sesuatu yang sangat penting, terutama ketika diperlukan untuk memperkuat
konfrontasi dengan kekuatan kolonial Belanda.
Massa Actie dan Konsep Aslia
Dalam karyanya "Massa Actie" (Aksi Massa)
yang ditulis pada tahun 1926, Tan Malaka menguraikan strategi-strategi
revolusioner dan mengkritik pendekatan perjuangan yang terlalu elitis. Ia
menekankan pentingnya mobilisasi massa rakyat dalam perjuangan kemerdekaan.
Buku ini juga mengusulkan konsep "Aslia", sebuah federasi sosial
antara negara-negara Asia Tenggara dan Australia Utara sebagai kekuatan
tandingan terhadap imperialisme Barat.
Konsep Aslia menunjukkan visi internasionalis Tan
Malaka yang jauh melampaui batas-batas nasional. Dalam beberapa publikasi,
termasuk "Massa Actie" tahun 1926 dan "Thesis" tahun 1946,
Tan Malaka mengadvokasi pembentukan negara regional besar yang disebutnya
"Aslia", yang mencakup semua pulau-pulau Australia dan sebagian besar
Asia Tenggara daratan. Negara ini, menurutnya, akan mampu berdiri sejajar
dengan negara-negara sosialis besar lainnya.
Dimensi Pedagogis dalam Perjuangan
Salah satu aspek yang sering terlupakan dari
perjuangan Tan Malaka adalah dimensi pedagogisnya. Pengalaman pedagogis Tan
Malaka bukan sekadar latar belakang profesi, melainkan fondasi utama visi
politiknya yang menekankan kesadaran kelas dan peran pendidikan sebagai
strategi pembebasan nasional berbasis kemandirian.
Tan Malaka memandang pendidikan sebagai kunci
pembebasan nasional. Tan Malaka menekankan bahwa pendidikan adalah dasar untuk
melepaskan bangsa dari keterbelakangan dan kebodohan serta belenggu
Imperialisme-Kolonialisme. Praktik pendidikannya dapat disebut sebagai
pedagogik transformatif, yaitu proses memanusiakan manusia untuk membentuk
masyarakat baru dan pengetahuan baru yang diciptakan oleh keterlibatan mereka
sendiri.
Konsep pendidikan Tan Malaka mencakup tiga aspek
utama: pertama, memberi senjata yang cukup untuk mencari kehidupan dalam dunia
kemodalan (berhitung, membaca, menulis, ilmu bumi, bahasa asing, bahasa
Indonesia dan bahasa daerah); kedua, memberi hak terhadap murid-murid melalui
pergaulan yang setara; ketiga, menunjukkan kewajiban terhadap jutaan rakyat
jelata (kaum kromo).
Perjuangan Pasca-Proklamasi
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17
Agustus 1945, Tan Malaka kembali ke Indonesia dan mengambil peran aktif dalam
revolusi fisik. Ia menolak kompromi dengan Belanda, bahkan ketika pemerintah
republik mulai melakukan pendekatan diplomatik. Tan Malaka memilih menggerakkan
massa, salah satunya dalam Rapat Raksasa Ikada 19 September 1945, yang menjadi
bukti dukungan rakyat.
Tan Malaka mendirikan Persatuan Perjuangan, sebuah
aliansi yang menolak kompromi politik dengan Belanda dan menuntut kemerdekaan
100%. Sikap kerasnya ini membuatnya sering berbenturan dengan tokoh-tokoh
nasional lain seperti Soekarno, Sjahrir, dan Hatta yang memilih jalur
diplomasi. Konflik strategi ini menempatkan Tan Malaka dalam posisi terisolasi
dalam politik nasional.
Akhir Hayat dan Warisan
Hidup Tan Malaka diwarnai dengan pengasingan, penjara,
dan pengejaran. Hidupnya berakhir dengan eksekusi tragis pada 21 Februari 1949
di Kediri. Ia ditangkap dan dieksekusi tanpa pengadilan oleh pasukan yang diduga
dari Tentara Republik Indonesia. Kematiannya yang tragis menunjukkan betapa
kontroversialnya posisi politiknya pada masa itu.
Baru pada tahun 1963, Presiden Soekarno menganugerahi
Tan Malaka gelar Pahlawan Nasional Indonesia, memberikan pengakuan resmi atas
jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan. Pengakuan ini datang puluhan tahun
setelah kematiannya, menunjukkan betapa rumitnya posisi Tan Malaka dalam
sejarah politik Indonesia.
Kesimpulan
Tan Malaka adalah seorang revolusioner internasionalis
yang memberikan kontribusi unik dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Perspektif internasionalnya yang terbentuk melalui pengalaman di berbagai
negara dan keterlibatannya dalam Komintern membedakannya dari tokoh-tokoh
nasionalis lain. Ia tidak hanya berpikir dalam kerangka nasional, tetapi juga
dalam konteks perjuangan anti-kolonial global dan gerakan sosialis
internasional.
Pemikiran-pemikirannya yang orisinal, seperti sintesis
antara Marxisme dan Islam, konsep Aslia, serta pendekatan pedagogis terhadap
revolusi, menunjukkan kedalaman intelektual dan keberaniannya untuk berpikir di
luar pakem yang ada. Meskipun hidupnya berakhir secara tragis dan pemikirannya
sering menimbulkan kontroversi, kontribusi Tan Malaka dalam meletakkan fondasi
ideologis perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak dapat diabaikan.
Warisan intelektual Tan Malaka tetap relevan hingga
hari ini, khususnya dalam diskusi tentang kemandirian nasional, pendidikan
kritis, dan perjuangan melawan berbagai bentuk penindasan. Sebagai revolusioner
internasionalis, Tan Malaka mengajarkan pentingnya memandang perjuangan
nasional dalam konteks global, sambil tetap mempertahankan identitas dan
kekhasan lokal.
SUMBER REFRENSI
Aji,
W.T., Marzuki, M., & Zakaria, N. (2024). Tan Malaka: Pendidikan sebagai Langkah
Pertama Manusia Indonesia Merdeka 100%. Jurnal Arjuna: Publikasi Ilmu
Pendidikan, Bahasa dan Matematika, 2(6), 109-125.
Rokhim,
M.M., Rahmat, M., & Surahman, C. (2019). Pemikiran Tan Malaka dan
Relevansinya dengan Pendidikan Islam. TARBAWY: Indonesian Journal of Islamic
Education, 6(1), 55-69.
Tan
Malaka. (2014). Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Yogyakarta:
Narasi.
Tan
Malaka. (2000). Massa Aksi. Jakarta: Komunitas Bambu.
Komentar
Posting Komentar